
Berawal dari ujung Oktober tiga tahun lalu ..
Kau hampiri aku di dekat tiang basket arah muka sekolah dengan tegasnya,
Pertemuan yang didasari atas kebersamaan team “ungu” dalam menghadapi pendidikan latihan ekstrakulikuler sekolah yang cukup bergengsi pada awal tahun ajaran baru ..
Kesan pertama yang sulit ku jabarkan.. karena lakumu yang begitu diam..
***
Seiring berjalannya waktu
hingga kita pun tiba dalam gerbang senior sekolah..
Suasana tampak begitu berbeda ..
karena tadinya kita biasa, namun kini kita terlihat begitu istimewa..
Kau selalu bilang:
“man jadda wa jadda”
Aku hanya bisa tersenyum menyikapi kereligiusan mu yang membuat mu begitu menawan,
Ramah muka dan senyum merendah selalu kau terpakan dalam setiap pertemuan kita..
Walau pun aku hanya bawahan mu dan mungkin kau pun hanya menganggapnya begitu..
Tapi perbedaan rasa ini selalu hinggap di hati ku entah mengapa..
***
Pagi ceria dengan wrna cerah mentari selalu kau antarkan bersama senyuman hangat untuk k.. aku pun merasa begitu terhaormat saat harus berada di dekat mu..
Kerap kali kau ku perlihatkan bagaimana cara ku berjalan.. dengarkanlah..
apa pesan dari jemari yang berlari menginjak bebatuan ..
seperti apa melodi atas detakkan langkah kaki ini,
seperti itulah aku memandang dunia..
tak begitu halus dan lurus..
mungkin cepat.. mungkin lambat..
***
dan pernahkah kau dengar sayup-sayup merdu dari kibasan sayap merpati di atas sana?
Atau pernahkah kau menghirup aroma melati putih di pagi hari yang menyemerbakkan taman?
Begitulah aku menyikapi sesuatu
Manfaatnya selalu bisa ku petik
Meskipun aku tak tahu siapa yang menanamnya
Keindahannya selalu bisa ku saksikan..
Meski ia tah pernah dengan sengaja menunjukkannya ke arah ku
Dan apakah kau pernah melihat goresan-goresan tinta yang ku taburkan dalam kanvas using di sana?
Atau nada-nada yang ku mainkan merdu pada piano tua itu?
Atau pernahkah kau membaca rangkaian kata-kata yang ku goreskan dalam secarik kertas yang lusuh ini?
Begitulah cara ku untuk mengungkapka apa yang sedang ku rasa..
***
Hati ku tak pernah sedikit pun ingin bicara kecuali pada Sang Penciptanya
Tapi ia bisa mengisyaratkan itu semua lewat baitan puisi, rangkaian sajak, alunan melodi, goresan tinta dan car pada kanvas, juga melalui gerak laku yang memilikinya..
***
Kau pernah berkata:
“ketika Dheka baru merasa mengakhirinya, sekarang saya baru memulainya.
Apakah ini benar ataukah salah,
Saya tidak tahu bagaimana akhirnya,
We don’t know what Allah plans?”
Senin, 4 April 2011
***
Meskipun pada mulanya aku hanya tersenyum membacanya
Tapi lambat laun aku bar menyadari
Ada laku lain darimu untukku
Ada suatu hal beda yang kau bedakan untukku
Perbedaan tiga tahun lalu pun kini bisa ku tutupi.. entah..
Namun aku juga merasa belumlah pantas..
***
Kau juga bilang:
“raihlah tangan ku.. dan duduk lah di sebelah singgasanaku.. untuk selanjutnya kau boleh menikmati sebagian dari apa yang aku punya”
Entah apa yang aku bisa katakana saat itu..
Hanya diam dan mengucap “Alhamdulillah Ya Rabb..”
Aku ingin berteriak
“Hei Duniaa….. Aku bahagia!!”
Awan serasa beriring-iringan menyambut rekahan senyum ku
Dedaunan hijau seolah menari..
Guguran daun coklat berterbangan terhembus angin bahagia
Merpati-merpati itu pun berlomba untu dapat hinggap di ranting pohon untuk menyaksikan aku berjalan di sampingnya
***
Dunia indah.. dan mudah bila kita syukuri
Adanya dirimu tak menbuatku menyerah dan penuh keluh kesah
Kau ajarkan aku bagaimana seharusnya kita menyikapi sesuatu..
Kau juga pernah bilang:
“hidup 15 tahun namun bermanfaat akan lebih berharga disbanding hidup 70 tahun namun sia-sia”
Adanya kau di sampingku.. membuatku merasa aman, nyaman, dan terhormat
Kau perlakukan ku bak Ratu yang hatinya harus dijaga
Bukan karena rapuh.. tapi karena terlalu berharga
Aku selalu sangat menantikan, pada saat-saat kau dan aku berjalan beriringan..
Aku bukanlah seorang yang pandai dalam mengiming-imingkan kata untuk sebuah perasaan semu
“aku bahagia mengenal dirimu”
Hanya itu kesan ku selama tiga tahun ini..
***
Bukan suatu hal yang lungrah lagi, atas semua yang pernah kita pijaki
Mungkin sampai saat ini pun kau belum juga mengetahui
Jika aku juga punya hati
Bukan hanya kau yang merasa.. saat hari bahagia itu tiba
Dan kita belum juga bisa menepatinya
Bukan hanya aku, tapi sesalku mengalahkan semua airmata ku
Aku tidak pernah menyalahkan siapa-siapa
Karena apa yang aku pilih, itulah yang akan aku genggam
***
Terimakasih atas semua waktu yang pernah kita habiskan bersama,
Jagalah diorama frame yang pernah aku buatkan di hari ulang tahun mu
Satu harapanku..
Agar kau bisa jadikan itu sebagai pengingatmu akan aku
“Aku mencintaimu lewat karyaku..”
0 komentar:
Posting Komentar