. Princess Dheka Esti Rahayu: GASOHOL

Princess Dheka Esti Rahayu

ditujukan untuk semua para pembaca yang selalu mengapresiasikan dirinya dalam cinta

GASOHOL


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena dengan rahmat dan karunia-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Kimia Organik dengan membahas tentang Gasohol, Energi yang Ramah Lingkungan dalam bentuk makalah ini. Selama menyelesaikan makalah ini mulai dari persiapan hingga selesai, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan kali ini, atas bantuan dan dorongan moril maupun materiil penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:

1.     Dosen bidang studi Kimia Organik, Ibu Salamah S.Si, M.Si, yang telah memberikan tugas dan petunjuk sehingga penulis termotivasi menyelesaikan makalah ini,
2.     Orang tua yang selalu memberi semangat,
3.     Sahabat-sahabat yang selalu member motivasi dan dorongan juga banyak membantu dalam penyelesaian makalih ini,
4.     Pihak-pihak lain yang turut mendo’akan untuk suksesnya pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan. Hal ini disebabkan karena terbatasnya penanggapan dan pengetahuan yang ada pada diri penulis.  Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah yang mengankat tema tentang Gasohol ini dapat membantu menambah wawasan dan pengetahuan pembaca, serta dapat membuat pembaca berpikir lebih kritis dalam mengembangkan suatu energi dan teknologi yang ramah lingkungan. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sendiri sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Aamiin

Yogyakarta,   November 2012

Penulis
DAFTAR ISI


Kata Pengantar………………………………………………………           i
Daftar Isi…………………………………………………………….            ii         
BAB I PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang …………………………………………......           1
1.2.   Rumusan Masalah ………………………………………….            2
1.3.   Batasan Masalah……………………………………………            2
1.4.   Tujuan …………………………………………………….. .           2
1.5.   Manfaat …………………………………………………….           3
1.6.   Landasan Teori …………………………………………….            3
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Proses Pembuatan Bio-Etanol ………………………………            5
2.1.1 Proses Gelatinasai …………………………………….            7
2.1.2 Proses Fermentasi ……………………………………             8
2.1.3 Proses Distilasi ………………………………………              9
2.2  Cara Pembuatan Bio-Etanol ……………………………….             9
2.3  Proses Pembuatan Gasoline…………………………….…..             13
2.4  Proses Blending untuk Mendapatkan Gasohol …………….             14
2.5  Manfaat Penggunaan Gasohol ……………………………..             15

BAB IV PENUTUP
4.1  Kesimpulan…………………………………………………...          16
4.2  Saran………………………………………………………….          16

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………..         18


















 



BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Saat ini penggunaan BBM didominasi oleh penggunaan bensin untuk keperluan kendaraan pribadi berupa mobil dan motor. Gasoline atau bensin yang selama ini kita kenal merupakan bahan bakar pada kendaraan bermotor yang tidak ramah lingkungan. Karena pada gasoline atau bensin terdapat timbal yang dapat menguap bebas ke udara. Untuk mencegah pemanasan yang terlalu cepat pada mesin kendaraan, biasanya bensin ditambah tetraetillead (TEL) dengan rumus molekul (C2H5)4 dan agar hasil pembakaran tidak tertimbun dalam mesin, maka ditambahkan 1,2-dibromo metana ke dalam bensin, sehingga pada pembakaran dihasilkan PbBr2 yang mudah menguap dan bebas ke udara. Kerugian dari proses ini adalah terjadinya pencemaran udara oleh timbale (Pb). Namun, akhir-akhir ini TEL telah diganti dengan MTBE (Metil Tersier Butil Eter) dan yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara.
Beberapa Negara seperti Amerika Serikat dan Eropa telah digunakan Gasohol sebagai bahan bakar mesin kendaraan bermotor. Yang pada dasarnya Gasohol merupakan campuran bensin dan alkohol. Etanol yang secara teoretik memiliki angka oktan di atas standar maksimal bensin, cocok diterapkan sebagai substitusi sebagian ataupun keseluruhan pada mesin bensin. Terdapat beberapa karakteristik internal ethanol yang menyebabkan penggunaan etanol pada mesin lebih baik daripada gasolin. Etanol memiliki angka research octane 108.6 dan motor octane 89.7. Angka tersebut (terutama research octane) melampaui nilai maksimal yang mungkin dicapai oleh gasolin. Sebagai catatan, bensin yang dijual Pertamina memiliki angka research octane 88. Angka oktan pada bahan bakar mesin menunjukkan kemampuannya menghindari terbakarnya campuran udara dan bahan bakar sebelum waktunya (self-ignition). Terbakarnya campuran udara dan bahan bakar di dalam mesin sebelum waktunya akan menimbulkan fenomena ketuk (knocking) yang berpotensi menurunkan daya mesin, bahkan bisa menimbulkan kerusakan serius pada komponen mesin.
Oleh karena itu, penulis sengaja mengangkat tema tentang Gasohol karena tema ini dirasa menarik untuk dibahas. Selain itu, pembaca juga dapat mempelajarinya lebih jauh dengan maksud menambah pegetahuan, wawasan juga mampu berpikir lebih kritis lagi demi terciptanya suatu energi yang bersih dari pencemaran lingkungan.

1.2    Rumusan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini penulis merumuskan beberapa rumusan masalah, di antaranya:
1.2.1        Apa yang dimaksud dengan Gasohol?
1.2.2        Apa manfaat dalam penggunaan Gasohol?
1.2.3        Apa saja proses dalam pembuatan Gasohol?
1.2.4        Bagaimana cara membuat Gasohol?


1.3    Tujuan
Tujuan dingkatnya “Gasohol” menjadi topik dalam makalah ini adalah:
1.3.1        Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan Gasohol,
1.3.2        Dapat mengetahui manfaat dari Gasohol,
1.3.3        Dapat mengetahui proses pembuatan Gasohol,
1.3.4        Dapat mengetahui cara pembuatan Gasohol,


1.4    Batasan Masalah
Untuk mempermudah pemahaman dalam pembuatan makalah ini penulis sengaja hanya membahas tentang pengertian Gasohol, manfaat yang ditimbukan dalam penggunaan Gasohol,  dan proses dan cara pembuatan Gasohol.

1.5    Manfaat
Manfaat dalam penulisan makalah ini adalah:
1.5.1        Dapat menyelesaikan Tugas yang telah diberikan oleh ibu dosen bidang studi Kimia Organik,
1.5.2        Sebagai media pengembangan keterampilan dalam membuat makalah,
1.5.3        Dapat dijadikan sebagai pengalaman bagi penulis.


1.6    Landasan Teori

Gasohol yang merupakan singkatan dari gasoline (bensin) plus alkohol (bioetanol) adalah campuran antara bioetanol kering atau absolute (kadar etanol >99,5%) terdenaturasi dan bensin dapat langsung digunakan pada mesin mobil atau motor tanpa perlu memodifikasi mesin. Gasolin atau bensin adalah salah satu jenis bahan bakar minyak yang dimaksudkan untuk kendaraan bermoto roda dua, tiga, atau empat. Dewasa ini, tersedia 3 jenis bensin, yaitu premium, petamax, dan pertamax plus. Ketiganya mempunyai mutu atau peformance yang berbeda. Adapun mutu bahan bakar bensin dikaitkan dengan jumlah ketukan (knocking) yang ditimbulkannya dan dinyatakn dengan nilai oktan. Semakin sedikit ketukannya, semakin baik mutunya, dan semakin tinggi nilai oktannya.

Ketukan adalah suatu perilaku yang kurang baik dari bahan baka, yaiu pembakaran menjadi terlalu dini sebelum piston berada pada posisi yang tepat. Ketukan menyebabkan mesin menggelitik, mengurangi efisiensi bahan bakar dan dapat merusak mesin. Untuk menentukan nilai oktan, dietapkan dua jenis senyawa sebagai pembanding yaitu ”isooktana” dan n-hepatana. Kedua senyawa ini adalah dua diantara banyak macam senyawa yang tedapat dalam bensin. Isooktana menghasilkan ketukan palin sedikit dan dibei nilai oktan 100. sedangkan n-heptana menyebabkan keukan paling banyak. Pertamax mempunyai nilai oktan 92, bearti mutu bahan bakar itu setara denagn campuran 92% isooktana dan 8% n-heptana. Premium mempunyai nilai oktan 88. sedangakan pertamax plus mempunyai nilai 94. Bilangan oktan bensin dapat juga ditingkatkan dengan cara menambah zat aditif antiketukan, seperti TEL, MTBE, dan etanol.
a.       Tetraethyl lead (TEL)
Salah satu anti ketukan yang hingga kini masih digunakan di negara kita adalah Tetraethyl lead (lead = timbel atau timah hitam) yang rurmus kimianya Pb(C2H5)4. Untuk mengubah Pb dari bentuk padat menjadi gas, pada bensin yang mengandung TEL ditambahkan zat aditif lain, yaitu etilen bromide (C2H2Br). Penambahan 2 – 3 mL zat ini ke dalam 1 galon bensin dapat menaikkan nilai oktan sebesar 15 poin. Untuk mengubah Pb dari bentuk padat menjadi gas pada bensin yang mengandung TEL dibutuhkan etilen bromida (C2H5Br). Celakanya, lapisan tipis timbal terbentuk pada atmosfer dan membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia.

b.      Methyl Tertier Butyl Ether (MTBE)
Methyl Tertier Butyl Ether (MTBE) Senyawa MTBE memiliki bilangan oktan 118. Senyawa MTBE ini lebih aman dibandingkan TEL karena tidak mengandung logam timbel. Selain dapat meningkatkan bilangan oktan, MTBE juga dapat menambahkan oksigen pada campuran gas di dalam mesin, sehingga akan mengurangi pembakaran tidak sempurna bensin yang menghasilkan gas CO. Belakangan diketahui bahwa MTBE ini juga berbahaya bagi lingkungan karena mempunyai sifat karsinogenik dan mudah bercampur dengan air, sehingga jika terjadi kebocoran pada tempat-tempat penampungan bensin (misalnya di pompa bensin) MTBE masuk ke air tanah bisa mencemari sumur dan sumber-sumber air minum lainnya.

c.       Etanol merupakan salah satu hasil fermentasi alkohol. Fermentasi merupakan proses perubahan karbohidrat/sakarida menjadi etanol dengan bantuan enzim yang terdapat dalam ragi (zymase) secara anaerob. Etanol bersifat mudah terbakar sehingga dapat dijadikan bahan bakar. Bio-etanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan atau sering disebuy Bahan Bakar Nabati) di samping Biodiesel. Bahan baku bio-etanol yang dapat digunakan antara lain ubi kayu, tebu, sagu, jagung dll.


BAB II
PEMBAHASAN

Berdasarkan landasan teori kita telah mengetahui bahwa Gasohol merupakan campuran dari Bioetanol dan Gasoline atau bensin. Maka pada pembahasan ini akan disajikan cara pembuatan bioetanol dan gasoline. Etanol absolut memiliki angka oktan 117, sedangkan Premium hanya 87-88. Gasohol E-10 secara proporsional memiliki bilangan oktan 92 atau setara dengan Pertamax. Pada komposisi ini bioetanol dikenal sebagai octan enhancer (aditif) yang paling ramah lingkungan dan di negara-negara maju telah menggeser penggunaan Tetra Ethyl Lead (TEL) maupun Metil Tersier Butil Eter (MTBE). Bioetanol bersifat multi-guna karena dicampur dengan bensin pada komposisi berapapun memberikan dampak yang positif. Pencampuran bioetanol absolut sebanyak 10% dengan bensin (90%) disebut Gasohol E-10. Dan pencampuran bioetanol absolute sebanyak 20% dengan bensin (80%) disebut Gasohol E-20. Hasil pengujian kinerja mesin bensin menggunakan Gasohol adalah:
·         Gasohol E-10 dan E-20 menunjukkan kinerja mesin yang lebih baik dari Premium dan setara dengan Pertamax,
·         Bio-Premium terdiri dari 97% Premium dan 3% biotanol murni, dan
·         Bio-Pertamax terdiri dari 97% Pertamax dan 3% bioetanol murni.

2.1  Proses Pembuatan Bio-Etanol
Secara umum, proses pengolahan bahan berpati seperti umbi kayu, jagung dan sagu untuk menghasilkan bio-etanol dilakukan dengan proses urutan. Pertama adalah proses hidrolisis, yakni proses konversi pati menjadi glukosa. Prinsip dari hidrolisis pati pada dasarnya adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa (C6H12O6). Pemutusan rantai polimer tersebut dapat dilakukan dengan berbagai metode, misalnya secara enzimatis, kimiawi ataupun kombinasi keduanya. Hidrolisis secara enzimatis memiliki perbedaan mendasar dibandingkan hidrolisis secara kimiawi dan fisik dalam hal spesifitas pemutusan rantai polimer pati. Hidrolisis secara kimiawi dan fisik akan memutus rantai polimer secara acak, sedangkan hidrolisis enzimatis akan memutus rantai polimer secara spesifik pada percabangan tertentu.
Produksi etanol/bio-etanol (alkohol) dengan bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohydrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air. Konversi bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat dan tetes menjadi bio-ethanol. Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses pembuatannya dapat dibedakan berdasarkan zat pembantu yang dipergunakan, yaitu asam hidrolisis dan enzim hidrolisis. Berdasarkan kedua jenis hidrolisis tersebut, saat ini enzim hidrolisis lebih banyak dikembangkan, sedangkan asam hidrolisis (misalnya dengan asam sulfat) kurang dapat berkembang, sehingga proses pembuatan glukosa dari pati-patian sekarang ini dipergunakan dengan enzim hidrolisis. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air dilakukan dengan penambahan air dan enzim, kemudian dilakukan proses peragian atau fermentasi gula menjadi ethanol dengan menambahkan yeast atau  ragi. Reaksi yang terjadi pada proses produksi etanol/bio-etanol secara sederhana ditujukkan pada reaksi 1 dan 2.
Selain etanol/bio-etanol dapat diproduksi dari bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, juga dapat diproduksi dari bahan tanaman yang mengandung selulosa, namun dengan adanya lignin mengakibatkan proses penggulaannya menjadi lebih sulit, sehingga pembuatan etanol/bio-etanol dari selulosa tidak perlu direkomendasikan. Meskipun teknik produksi etanol/bio-etanol merupakan teknik yang sudah lama diketahui, namun etanol/bio-etanol untuk bahan bakar kendaraan memerlukan etanol dengan karakteristik tertentu yang memerlukan teknologi yang relatif baru di Indonesia antara lain mengenai neraca energi (energy balance) dan efisiensi produksi, sehingga penelitian lebih
lanjut mengenai teknologi proses produksi etanol masih perlu dilakukan. Secara singkat teknologi proses produksi etanol/bio-etanol tersebut dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu gelatinasi, sakarifikasi, dan fermentasi.

2.1.1         Proses Gelatinasi
Dalam proses gelatinasi, bahan baku dihancurkan dan dicampur air sehingga menjadi bubur, yang diperkirakan mengandung pati 27-30%. Kemudian bubur pati tersebut dimasak atau dipanaskan selama 2 jam sehingga berbentuk gel. Proses gelatinasi tersebut dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
a.       Bubur pati dipanaskan sampai 130ºC selama 30’ menit, kemudian didinginkan sampai mencapai temperature 95ºC yang diperkirakan memerlukan waktu sekitar 15 menit. Temperatur 95ºC tersebut dipertahankan selama sekitar 75 menit, sehingga total waktu yang dibutuhkan mencapai 2 jam. Gelatinasi cara pertama ini disebut juga cara pemanasan bertahap yang mempunyai keuntungan, yaitu pada suhu 95ºC aktifitas termamil merupakan yang paling tinggi, sehingga mengakibatkan yeast atau ragi cepat aktif. Pemanasan dengan suhu tinggi (130ºC) pada cara pertama ini dimaksudkan untuk memecah granula pati, sehingga lebih mudah terjadi kontak dengan air enzim. Perlakuan pada suhu tinggi tersebut juga dapat berfungsi untuk sterilisasi bahan, sehingga bahan tersebut tidak mudah terkontaminasi.
b.      Bubur pati ditambah enzim termamil dipanaskan langsung sampai mencapai temperatur 130ºC selama 2 jam. Gelatinasi cara kedua ini disebut juga cara pemanasan langsung ( gelatinasi dengan enzim termamil ) pada temperature 130ºC menghasilkan hasil yang kurang baik, karena mengurangi aktifitas yeast. Hal tersebut disebabkan gelatinasi dengan enzim pada suhu 130ºC akan terbentuk tri-phenyl-furane yang mempunyai sifat racun terhadap yeast. Gelatinasi pada suhu tinggi tersebut juga akan berpengaruh terhadap penurunan aktifitas termamil, karena aktifitas termamil akan semakin menurun setelah melewati suhu 95ºC. Selain itu, tingginya temperature tersebut juga akan mengakibatkan half life dari termamil semakin pendek, sebagai contoh pada temperature 93ºC, half life dari termamil adalah 1500 menit, sedangkan pada temperature 107ºC, half life termamil tersebut adalah 40 menit (Wasito, 1981). Hasil gelatinasi dari ke dua cara tersebut didinginkan sampai mencapai 55ºC.

2.1.2        Proses Fermentasi
Tahap kedua adalah proses fermentasi untuk mengkonversi glukosa (gula) menjadi etanol dan CO2. Fermentasi etanol adalah perubahan 1 mol gula menjadi 2 mol etanol dan 2 mol CO2. Pada proses fermentasi etanol, bakteri akan memetabolisme glukosa dan fruktosa membentuk asam piruvat melalui tahapan reaksi pada jalur Embden-Meyerhof-Parnas, sedangkan asam piruvat yang dihasilkan akan didekarboksilasi menjadi asetaldehida yang kemudian mengalami dehidrogenasi menjadi etanol (Amerine et al., 1987). Bakteri yang sering digunakan dalam fermentasi alkohol adalah Saccharomyces cerevisiae, karena jenis ini dapat berproduksi tinggi, toleran terhadap alkohol yang cukup tinggi (12-18%), tahan terhadap kadar gula yang tinggi dan tetap aktif melakukan fermentasi pada suhu 4-32ºC. Proses fermentasi dimaksudkan untuk mengubah glukosa menjadi bioetanol (alkohol) dengan menggunakan yeast. Alkohol yang diperoleh dari proses fermentasi ini, biasanya alkohol dengan kadar 8-10% volume. Sementara itu, bila fermentasi tersebut digunakan bahan baku gula (molases), proses pembuatan etanol dapat lebih cepat. Pembuatan etanol dari molases tersebut juga mempunyai keuntungan lain, yaitu memerlukan bak fermentasi yang lebih kecil. Etanol yang dihasilkan proses fermentasi tersebut perlu ditingkatkan kualitasnya dengan membersihkannya dari zat-zat yang tidak diperlukan. Alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi biasanya masih mengandung gas-gas antara lain CO2 (yang ditimbulkan dari pengubahan glukosa menjadi etanol/ bio-etanol) dan aldehide yang perlu dibersihkan. Gas CO2 pada hasil fermentasi tersebut biasanya mencapai 35% volume, sehingga untuk memperoleh etanol/bioetanol yang berkualitas baik, etanol/bioetanol tersebut harus dibersihkan dari gas tersebut. Proses pembersihan (washing) CO2 dilakukan dengan menyaring etanol/bioetanol yang terikat oleh CO2, sehingga dapat diperoleh etanol/bioetanol yang bersih dari gas CO2). Kadar etanol/bioetanol yang dihasilkan dari proses fermentasi, biasanya hanya mencapai 8-10% saja, sehingga untuk memperoleh etanol yang berkadar alkohol 95% diperlukan proses lainnya, yaitu proses distilasi.

2.1.3        Proses Distilasi
Terdapat dua tipe proses destilasi yang banyak diaplikasikan, yaitu continuous-feed distillation column system (tipe distilasi yang berlangsung terus menerus pada suaatu sistem kolom) dan pot-type distillation system (tipe distilasi yang berlangsung hanya di satu sistem). Selain tipe tersebut, dikenal juga tipe destilasi vakum yang menggunakan tekanan rendah dan suhu yang lebih rendah untuk menghasilkan konsentrasi alkohol yang lebih tinggi. Tekanan yang digunakan untuk destilasi adalah 42 mmHg atau 0.88 psi. Dengan tekanan tersebut, suhu yang digunakan pada bagian bawah kolom adalah 35°C dan 20°C di bagian atas.


2.2  Cara Pembuatan Bio-Etanol

Dalam cara pembuatan bioetanol ini penulis mengambil sample dari bahan baku singkong. Singkong dapat diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong merupakan salah satu sumber pati, dimana pati merupakan senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa (karbohidrat yang lebih sederhana). Untuk mengurai pati, perlu bantuan bakteri Aspergillus sp. Bakteri itu menghasilkan enzim alfamilase dan gliikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa atau gula sederhana. Setelah menjadi gula, kemudian difermentasi menjadi etanol. Berikut langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan singkong yang berkapasitas 10 liter per hari.

a.       Kupas 125 kg singkong segar. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil,

b.      Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16% (persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek). Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku,

c.       Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100ºC selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental,

d.      Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikas (sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa). Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergillus dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati,

e.       Dua jam kemudian, bubur gaplek akan berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebih tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum,


f.       Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28-32ºC dan pH 4,5-5,5,

g.      Setelah 2-3 hari, larutan pati akan berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6-12% etanol,

h.      Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein,

i.        Meski telah disaring, etanol masih bercampur air. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Yaitu dengan memanaskan campuran air dan etanol pada suhu 78ºC atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair,

j.        Hasil penyulingan akan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar dapat larut, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100ºC. Pada suhu itu, etanol dan air akan menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air yang tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dicampur dengan bensin. 10 liter etanol 99%, membutuhkan 120-130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek.


Sebagaimana disebutkan diatas, untuk memurnikan bioetanol menjadi berkadar lebih dari 95% agar dapat dipergunakan sebagai bahan bakar, alkohol hasil fermentasi yang mempunyai kemurnian sekitar 40% tadi harus melewati proses destilasi untuk memisahkan alkohol dengan air dengan memperhitungkan perbedaan titik didih kedua bahan tersebut yang kemudian diembunkan kembali. Untuk memperoleh bio-etanol dengan kemurnian lebih tinggi dari 99,5% atau yang umum disebut fuel based ethanol, masalah yang timbul adalah sulitnya memisahkan hidrogen yang terikat dalam struktur kimia alkohol dengan cara destilasi biasa, oleh karena itu untuk mendapatkan fuel grade ethanol dilaksanakan pemurnian lebih lanjut dengan cara Azeotropic destilasi.
2.3  Proses Pembuatan Gasoline
Proses pembuatan Gasoline diawali dengan pencarian minyak bumi, lalu kalau sudah ketemu minyaknya dan isinya cukup banyak, dilanjutkan dengan pemompaan. Tentunya prosesnya tak hanya dipompa saja, Setelah itu masih perlu pemisahan dengan air dan kotoran lainnya. Untuk sumur-sumur yang sudah tua dan hasil minyak sudah menurun, perlu ditambahkan teknologi untuk mengambil sisa-sisa minyak yang masih terperangkap di batu-batuan. Teknologinya disebut Enhanched Oil Recovery bisa dengan penambahan uap panas, cairan surfaktan, gas Karbon Dioksida atau bahan kimia lain. Kemudian minyak bumi diangkut ke pabrik pengolahan minyak bumi (kilang), disana minyak akan dipisahkan dengan penyulingan I (Distilasi), yang akan menghasilkan 3 produk yaitu Fraksi LPG I, Fraksi Sedang I, dan Fraksi Berat I.
·         Fraksi LPG dari penyulingan I sebagian masuk reaktor Isomerisasi menjadi Bensin, sebagian lagi masuk ke reaktor Reforming menjadi bensin dan kondensat.
·         Fraksi sedang I masuk reaktor hydroteating menjadi minyak tanah, avtur dan minyak diesel/solar.
·         Lalu Fraksi berat I masuk Alat Penyulingan/Distilasi II menghasilkan Fraksi LPG II, Fraksi Sedang II, dan Fraksi Berat II. Fraksi LPG II inilah yang banyak kita pakai untuk masak di dapur sekarang ini.
·         Fraksi sedang 2 sebagian masuk reaktor Hidrocracking kemudian menghasilkan minyak tanah, avtur dan minyak diesel/solar.
·         Fraksi Berat 2 kemudian masuk proses Coking yang menghasilkan dua produk yaitu aspal dan petroleum Coke (petcoke/kokas). Kokas ini juga bisa sebagai bahan bakar padat seperti batu bara.

Fraksi
Ukuran Molekul
Titik Didih (oC)
Kegunaan
Gas
C1 – C5
-160 – 30
Bahan bakar (LPG), sumber hidrogen
Petoleum eter
C5 – C7
30 – 90
Pelarut, binatu kimia (dry cleaning)
Bensin (gasoline)
C5 – C12
30 – 200
Bahan bakar motor
Kerosin, minyak diesel/solar
C12 - C18
180 – 400
Baha bakar mesin diesel, bahan bakar industi, untuk cracking
Minyak pelumas
C16 ke atas
>350
Pelumas
Parafin
C20 ke atas
Zat padat dengan titik cai rendah
Lilin dan lain-lain
Aspal
C25 ke atas
Residu
Baha bakar dan untuk pelapis jalan raya
        Berdasarkan table di atas, maka kita dapat mengetahui bahwa Gasoline dihasilkan pada suhu 30-200ºC dan mempunyai ikatan karbon C5-C12.

2.4  Proses Blending untuk Mendapatkan Gasohol
Setelah melalui beberapa proses, Bioetanol dan Gasolin siap untuk diblending untuk menjadikannya Gasohol. Proses ini merupakan proses pencampuran Bioetanol dan Gasolin yang dirumuskan dalam prosentase volume. Contohnya:
a.    Gasohol E-10, didapatkan dari hasil blending antara 10% bioetanol dan 90% gasoline,
b.   Gasohol E-20, didapatkan dari hasil blending antara 20% bioetanol dan 80% gasoline.
Gasoline yang didapatkan ini dapat langsung digunakan pada mesin berbahan bakar bensin tanpa harus memodifikasi ulang kendaraan tersebut.

2.5  Manfaat Penggunaan Gasohol
Dalam penggunaan Gasohol terdapat banyak manfaat. Selain untuk mesin juga untuk lingkungan. Diantaranya:
a.       Gasohol E-10 secara proporsional memiliki bilangan oktan 92 atau setara dengan Pertamax,
b.      Gasohol E-10 dan E-20 menunjukkan kinerja mesin yang lebih baik dari Premium dan setara dengan Pertamax,
c.       Karena Gasohol tidak mengandung unsur-unsur yang berbahaya, maka Gasohol tidak mencemari udara.








BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan
          Berdasarkan uraian dari Bab I dan Bab II, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, di antaranya:
a.       Gasohol adalah campuran antara bioetanol kering atau absolute (kadar etanol >99,5%) terdenaturasi dan bensin dapat langsung digunakan pada mesin mobil atau motor tanpa perlu memodifikasi mesin,
b.      Proses pembuatan Gasohol adalah melalui proses Blending antara Bioetanol (alkohol) dengan Gasolin (bensin) dalam prosentase volume,
c.       Proses pembuatan bio-etanol adalah proses gelatinasi, fermentasi, dan distilasi,
d.      Pembuatan bio-etanol dapat menggunakan berbagai macam pati-patian atau tumbuhan yang menghasilkan karbohidrat tinggi,
e.       Manfaat penggunaan gasohol adalah:
·         Gasohol E-10 secara proporsional memiliki bilangan oktan 92 atau setara dengan Pertamax,
·         Gasohol E-10 dan E-20 menunjukkan kinerja mesin yang lebih baik dari Premium dan setara dengan Pertamax,
·         Tidak mencemari lingkungan.

3.2      Saran
Setelah Makalah ini selesai dibuat, penulis berharap agar pada pembaca senantiasa berpikir kritis terhadap bahan bakar yang tidak mencemari lingkungan dan berusaha untuk meningkatkan dan menambah pengetahuan tentang pembuatan teknologi yang dapat bermanfaat untuk masyarakat banyak namun tidak merugikan lingkungan. Selain itu, penulis berharap agar setelah pembaca membaca makalah ini pembaca dapat terus menambah ilmu pengetahuan tentang tema yang serupa agar dapat membuat suatu kesimpulan yang lebih akurat lagi.

Makalah yang membahas tentang Gasohol ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun penulis berharap agar data-data tersebut bisa dipergunakan dengan baik bagi yang membutuhkan. Apabila terdapat kekurangan, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi mendapatkan suatu ilmu pengetahuan yang lebih baik. Demikian kesimpulan atas Makalah yang saya kerjakan, guna memenuhi Tugas yang diberikan oleh dosen mata pelajaran. Atas segala jenis kekurangan yang ada saya mohon maaf dan mengharap saran-saran agar terciptanya suatu pembelajaran yang baik. Terimakasih.


















DAFTAR PUSTAKA

BPPT. 2005. Kajian Lengkap Prospek Pemanfaatan Biodiesel Dan Bioethanol Pada          .       Sektor Transportasi Di Indonesia. Jakarta: BPPT.
Nasution, A.R, dkk. 2010. Proses Pembuatan BBB Solar Ramah Lingkungan. Jakarta: LEMIGAS.

0 komentar:

Poskan Komentar

welcome to the new world